Thursday, December 2, 2010

HUNIAN TERAKHIR, KARYA BUDI "BODHONG" PRAKOSO

Potret Budi Prakoso, Yogyakarta, Dayu, Jl. Kaliurang KM 8,5 Yogyakarta, diambil dari http://www.jakartaartawards.com/index.php?mib=pelukis.profile&id=136

Hunian Terakhir, karya Budi Prakoso, ukuran 100x200 cm, media acrylic on canvas, 2010. Lukisan ini diambil dari http://www.jakartaartawards.com/index.php?mib=lukisan.profile&id=111

HUNIAN TERAKHIR

Obyek dalam karya ini adalah sebuah refleksi sekaligus metafor dari kondisi kota jakarta saat ini. Dimana Jakarta masih menjadi tujuan ribuan kaum urban yang setiap saat selalu mendatangi kota ini hingga pada akhirnya setiap jengkal tanah yang tersisa menjadi lahan yang subur bagi tumbuh dan berkembangnya hunian – hunian baru untuk mereka bertahan hidup, entah itu ilegal atau maupun yang legal mereka tidak pernah peduli.
Dengan kondisi demikian tentu akan merangsang tumbuhnya usaha – usaha properti dan jasa pembangunan rumah hunian, kantor, pertokoan., hingga apartemen – apartemen yang menjamur dan dan hampir tidak terkendali perkembangannya. Karena dengan modal dan kekuatan yang ada, mereka memonopoli tanah – tanah yang tersisauntuk mereka tanami dengan bangunan – bangunan baru.
Tumbuhnya bangunan – bangunan baru seakan tidak akan pernah berhenti sebelum tanah di jakarta habis. Kemudian muncul pertanyaan dalam diri saya andai kata tanah di jakarta sudah tidak ada lagi?. Jika memang terjadi demikian, apakah tidak mungkin suatu saat nanti monas yang menjadi symbol kota jakarta pada akhirnya pun, berubah fungsi menjadi hunian terakhir, karena jakarta sudah tidak punya tanah lagi. Artikel ini diambil dari http://www.jakartaartawards.com/index.php?mib=lukisan.profile&id=111